TAYAMUM

Imam Al-Qarāfī punya ungkapan menarik seputar maqāshid syari’ah di kitab adz-dzakhīrah* saat mengulas persoalan tayamum. Begini kurang lebih terjemah bebasnya:

Tayamum adalah bagian dari keistimewaan umat ini, refleksi dari kebaikan dan sifat ihsan Allah padanya. Agar terhimpun pada umat ini dalam ibadahnya unsur tanah yang merupakan asal-usul permulaan keberadaan mereka dan unsur air yang menjadi sebab keberlangsungan kehidupannya, seolah terselip isyarat bahwa ibadah adalah sebab kehidupan abadi dan asas kebahagian yang berkesinambungan. Semoga Allah jadikan kita di antara ahli ibadah.

Allah juga mewajibkan tayamum agar umat dapat mendulang kemaslahatan di balik waktu-waktu salat sebelum terlewat. Kalaulah bukan karena kemaslahatan ini, sudah barang tentu Ia akan perintahkan siapapun yang tidak punya air untuk menangguhkan salatnya sampai ia menemukan air. Maka ini menunjukan betapa perhatian syariat terhadap maslahat di balik waktu salat lebih besar ketimbang maslahat taharah.

Kalau anda bertanya, “maslahat apa yang ada di balik pelaksanaan salat pada waktunya; bukan sebelum, atau setelahnya, yang padahal akal memandang bahwa satuan dari tiap waktu ini sama saja?”

Jawabannya, dalam hal ini para ulama -semoga Allah meridhai mereka- berpijak pada satu prinsip, bahwa jika kita analisa kebiasaan Allah dalam setiap syariatnya, maka pasti kita temukan padanya unsur kemaslahatan yang hendak diraih atau mafsadat yang dihindari. Selaras dengan ucapan ibnu ‘Abbas, “jika kamu mendengar seruan Allah, angkatlah kepalamu, maka kamu akan temukan bahwa Ia hanya menyeru kepada kebaikan atau menjauhkanmu dari keburukan.”

Misalnya kewajiban zakat dan nafkah yang berguna untuk menutup setiap celah, ursy jinayat sebagai kompensasi dari penganiayaan, pun dibalik hukum haramnya membunuh, zina, minum minuman memabukkan, mencuri, qadzaf, terdapat perlindungan untuk jiwa, nasab, akal, harta, juga kehormatan dari segala macam mafsadat, dan padanya terdapat kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana kita tahu secara pasti bahwa seorang raja biasanya sangat memuliakan para cendikiawan dan meremehkan orang-orang pandir. Sehingga saat kita lihat sang raja memuliakan seseorang, meski kita tidak tahu siapa orang itu sebenarnya, maka kita akan serta merta menilai bahwa ia seorang cendikiawan, berdasarkan pada kebiasaan ini. Maka demikian halnya para fukaha saat menyebut sesuatu dengan istilah “ta’abbudiyyah,” maknanya bahwa kami -para fukaha- tidak mampu menelisik hikmah dibaliknya meski kami yakin padanya terdapat hikmah. Sehingga istilah “ta’abbudiyah” bukan bermakna tidak ada hikmah dibaliknya.

*Semoga suatu saat saya punya kitab ini. Āmīn yā rabbal-‘ālamīn. Nitijin wa nitijāt ada yang mau donasi? Akhir bulan ini kabarnya ada bookfair nih, momennya pas. Tidak ada ya? Okay pass. Skipp~


Kamu tahu persamaan aku, kamu, dan thaharah? Aku tanpa air masih bisa tayamum pake debu. Tapi aku tanpamu cuma butiran debu.

Nitijin wa nitijat: Ramashook. Mekso aihh~

Okay skipp lagi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s