Meneropong “Apa” bukan “Siapa”

Bagi yang pernah belajar bahasa arab tentu akan familiar dengan kata “ما” dan “من”. Keduanya masuk kelompok isim maushul. Sederhananya, isim maushul adalah kelompok kata yang maknanya bergantung pada kalimat setelahnya. Jadi jangan coba pisahkan mereka, karena dengan begitu dia akan kehilangan jati dirinya. Elahh~

Nah pada dasarnya “من” itu merujuk pada subjek yang berakal, artinya siapa. Sementara “ما” untuk yang tidak berakal, artinya apa. Maka kalau bertanya, “apa namamu” itu bahasa arabnya “mā-ismuka?” Kalau ber tanya “siapa kamu?” Ya jadinya, “man anta?” Jawabannya, aku adalah kamu yang lain, eaa~

Itu kaidah dasarnya. Pada kondisi-kondisi tertentu terkadang keduanya bisa berperan ganda. Maksudnya tukar posisi. Contohnya di surat an-nūr: 45. Allah menyebutkan bahwa Dia-lah pencipta seluruh makhluk hidup, diantara makhluk itu ada yang berjalan dengan perutnya, dengan kedua kaki, dengan keempat kaki.

Hewan yang berjalan dengan perut itu ular atau cacing. Dengan dua kaki bisa manusia, bisa juga simpanse, monyet, atau ayam. Yang berjalan dengan empat kaki ada kuda, kambing, singa, atau sapi. Intinya selain dari manusia sisanya itu hewan tak berakal, tapi lafadz apa yang alquran gunakan? Yup, “man” yang menurut hukum dasarnya diperuntukan bagi yang berakal saja.

Kasus yang sama terjadi pada “mā”. Adakalanya dia digunakan untuk yang berakal, padahal aslinya untuk yang tidak berakal. Contohnya di surat an-nisa ayat tentang poligami, di sana disebutkan bahwa pada awalnya poligami itu diperuntukan kepada gadis-gadis yatim, spiritnya meringankan beban orang lain, si suami menggantikan posisi ayahnya yang telah wafat.

Tapi kalau ada potensi kehawatiran bersikap zalim pada anak yatim, ya sudah boleh deh poligami dengan yang kamu suka, dua, tiga, atau empat, dengan ketentuan perempuan-perempuan baik. Tapi kalau takut gak bisa adil maka satu aja deh. Liat banyak tapinya kan, banyak tapi ini pertanda banyak syarat loh~

Nah lafadz yang digunakan untuk kata ganti para perempuan itu pada ayat ini dengan “mā” bukan “man”. Apakah para perempuan itu makhluk-makhluk tak berakal? Oh bukan begitu penjelasannya.

Akad nikah itu sebagian ulama memasukannya pada kategori ‘aqdu al-mu’āwadlāt, artinya akad tukar menukar, seperti jual beli menukar barang dengan harga, akad sewa menukar manfaat dengan harga, atau yang lainnya. Nah pada kasus nikah mahar bertindak sebagai harga, dan perempuan sebagai komoditinya, itulah mengapa lafadz yang digunakan “mā” bukan “man” karena pada situasi tersebut perempuan sedang “cosplay” jadi komoditi yang ditukar dengan harga. Hahaha~

Tapi ada sudut pandang lain yang juga menarik hasil tadabur ayat ini, mengapa yang digunakan lafadz “mā” daripada “man”. Katanya ini panduan bagi para lelaki dalam mencari pasangan hidup, bahwa sepatutnya yang dilihat itu bukan “man/siapa” perempuan itu? Tapi hendaknya dia melihat “mā/apa” dimiliki oleh perempuan itu? Apa itu? Kata berikutnya yang menjelaskan “thāba lakum” artinya hal-hal yang menurut kalian baik. Dari kata thāba bisa terbentuk kata thayyib artinya ya kebaikan, sesuatu yang menyenangkan.

Maka bersikaplah objektif pada apa-apa yang dimiliki oleh si perempuan tadi dari kebaikan-kebaikannya, jangan subjektif. Apa bentuk kebaikan yang paling utama buat diobjektivikasi? Fadzfar bidzāti ad-dīn, taribat yadāk!”

Jadi, mari kita mulai meneropong apa kebaikan-kebaikan calon pasangan kita. Apaan, kamu mau aku teropongin haa?!!!11

 

3 Replies to “Meneropong “Apa” bukan “Siapa””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s